“KABAR TOBASAHUTA”

Harga Sebuah Kursi CPNS Rp 150 Juta

Desember 17, 2008 · 1 Komentar

Impian untuk meraih masa depan yang lebih baik, tentu menjadi impian siapa saja, itulah mimpi pertama saat toga Sarjana disematkan sang Rektor di kepala setiap orang yang pernah mengecap bangku kuliahan.

Apalagi beberapa saat, setelah diwisuda inilah tantangang pertama, antara harga diri dan prestasi, kemana akan kita bawa selembar ijazah dan sebuah predikat sarjana yang sudah kita sandang.

Sakit memang, terkadang apalagi bila mimpi itu begitu sulit menjadi kenyataan, tidak ada duit apalagi deking, terkadang melihat muka orang yang sebaya dengan kita tetapi kebetulan sudah lumayan berhasil lebih dulu dari kita dari segi ekonomi membuat kita tidak sanggup.

Inilah adalah kenyataan, termasuk bagi orang yang baru saja tamat dari bangku perkuliahan atau tugas belajar, maupun yang sudah lama tamat atau sudah lama meninggalkan almamaternya, harus memiliki identitas diri yang jelas atau tidak sama sekali.

Bekerja adalah sesuatu impian pasti didalam merajut masa depan, mencari sesuatu yang kita nantikan.  Siapakah kita yang tidak ingin membahagiakan orang tua, tetapi hidup adalah kenyataan, meskipun hidup juga pilihan tetapi hidup tidak bisa memaksa, karena hidup juga seperti air yang mengalir mengikuti arus.

Orang tua juga, selalu mengimpikan anak-anaknya menjadi seorang kebanggaan hati, yang terbaik sehingga menjadi anak yang bisa berbakti pada orang tua.

Nah sekarang ketika di bulan Desember 2008 ini, secara nasional diselenggarakan ujian penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) hampir di seluruh Indonesia termasuk di Pemerintahan Propinsi dan Kabupaten/Kota. Ribuan orang mengadu nasib meraih impian menjadi PNS.

PNS, salah satu profesi yang saat ini sangat dikejar banyak orang, alasannya bermacam-macam, motivasi dan tujuan termasuk tentunya demi masa depan yang lebih baik, yang konon memang profesi PNS menjadi salah satu profesi yang paling “ENAK” saat ini.

Apalagi di jaman cerita krisis yang tidak pernah berakhir, inilah satu-satunya harapan, tidak mengenal PHK, Kerja tidak begitu berat, uang sampingnya begitu lumayan, kata orang kadang lebih besar dari gaji sebulan, sehingga kadang ada yang stress dan bunuh diri gara-gara tidak lulus jadi PNS, banyak cerita tentang itu.

Nah masalahnya haruskah begitu, tentu jawabannya ada pada kita. Masalah ada uang sogok dan yang lulus secara murni dalam penerimaan CPNS setiap tahun dan setiap ada penerimaan menjadi cerita unik  yang turut membumbui musim penerimaan itu, ada yang senyum dan ada yang begitu kecut karena tidak lulus.

Sekarang kita di posisi mana, cuma saran saya tidak satu jalan menuju ke Roma, tidak menjadi PNS apakah lantas tidak makan dan akan mati kelaparan, toh semua orang menjalani hidupnya dengan pilihannya serta takdir yang hinggap padanya.

Apalagi saat ini, isu penerimaan CPNS kali ini, di tingkat pemerintahan Propinsi dan Kabupaten/Kota untuk lulusan SLTA dihargai Rp 50 Juta, DIII seharga Rp 75 Juta, S1 seharga 95 Juta sedangkan di instansi lainnya, mulai Kejaksaan, Kehakiman dan BPK untuk lulusan S1 mencapai Rp 175 sampai Rp 200 Juta. Siapa yang sanggup, kecuali mereka yang memang betul-betul kaya dan bermental korup, siapa mau rugi tanam uang begitu bannyak tetapi tidak segera kembali mengalir ke kocek. 

Semua modus sogok ini dilakukan dengan berbagai cara dan upaya untuk menyulitkan pihak lain dalam proses pembuktian secara hukum, sehingga secara teori sangat sulit membuktikan secara hukum upaya sogok dan penipuan yang sangat menyayat hati ini.

Termasuk beberapa profesi lainnya, ditengarai dapat disogok dengan uang ratusan juta rupiah, yang membuat hati terkadang miris mendengarnya. Lantas kemana nasib orang miskin dan tidak berpunya bila dalam setiap penerimaan PNS ada aroma sogok.

Jawabannya bukan pada saya, kamu atau siapa saja, terkadang jawabannya ini ada pada sang waktu.

Kategori: Forum Opini · Opini Korupsi
Ditandai:

1 response so far ↓

  • aris // Januari 25, 2009 pada 6:08 am

    korupsi di Tobasa memang kadung parah bukan main, itu semua adalh otaknya pejabat di BKD…………sebab oknum tersebut punya setoran ke atasannya.

Tinggalkan sebuah Komentar