Wah yang ini nich bukan mau cari sensasi, cuma fenomena sepertiĀ perlu diteliti kebenarannya, benarkah sinyalemen ini mendekati 60 persen, apa indikator dan metode penelitian yang telah digunakan menyimpulkan pendapat ini.
Namun yang pasti kita jangan berdebat, masing-masing harus melihat diri sendiri, apalagi yang punya anak gadis, kadang memang dunia seperti mau tua dan menuju suatu zaman kegelapan, lamban namun pasti seperti ada yang harus kita waspadai saat ini.
Khusus untuk daerah yang ada di tiga lokasi tersebut juga harus lebih waspada, masyarakat dan pemerintah setempat, termasuk daerah-daerah lain yang mungkin bukan mustahil juga akan mengalami fenomena seperti ini bahkan bisa jadi lebih buruk termasuk di pedesaan sekalipun
Kemajuan ilmu pengetahuan teknologi informasi dan komunikasi saat ini menjadi pemicu seks pra nikah di kalangan pelajar. Data dari tiga kota di Sumatera Utara (Medan, Binjai dan Langkat) diperkirakan tahun 2009 ini jumlah siswa tidak perawan mencapai angka 60 persen.
Hal ini diungkapkan Dekan Fakultas Biologi Universitas Medan Area (UMA), Ir E Harso Kardhinata MSc, kemarin saat tampil sebagai pembicara pada seminar pendidikan seks (sex education) bagi remaja di convention hall Kampus I UMA, Jalan Kolam Medan Estate.
Hadir dalam seminar itu Rektor UMA Prof HA Ya’kub Matondang dan Wakil Rektor UMA Ir Zulhery Noer MP.
Hasil survei Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tentang kondisi siswa (SMP dan SMA) di Indonesia, ternyata hasilnya cukup mengejutkan. Diperoleh data, 63 persen siswa dinyatakan tidak perawan atau sudah pernah melakukan hubungan intim. Dari jumlah tersebut, 21 persen pernah melakukan aborsi.
Penelitian di kota-kota besar di Indonesia ini, kata Harso, menunjukkan pertumbuhan seks pranikah di kalangan siswi cukup tinggi. Pada tahun 2005-2006, jumlah siswi tidak perawan masih berkisar 47,54 persen. Jadi dalam kurun dua tahun saja telah meningkat 15,46 persen. Dari lokasi penelitian menunjukkan, Kota Medan sebagai salah satu kota besar penyumbang angka yang tinggi itu.
Sementara hasil penelitian tahun 2001 mengungkapkan, bahwa 23 persen siswi tingkat Sekolah Lanjutan Pertama (SLTP) dan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) di Kota Medan, Binjai dan Langkat tidak perawan. Diperkirakan, tahun 2009 ini siswa tidak perawan di tiga daerah tersebut bisa mencapai 60 persen.
“Kecemasan patut kita rasakan menghadapi fakta tingginya angka seks pranikah di kalangan siswa. Salah satu faktor penyebab utamanya adalah kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang memicu peningkatan angka di atas menjadi semakin tinggi,” kata Harso.
Menurutnya, untuk meredam maraknya seks pranikah tidak cukup melibatkan tanggung jawab orang tua saja melainkan juga masyarakat dan pemerintah.” Teknologi informasi berupa televisi, VCD, internet, dan media massa dapat mempermudah remaja untuk mengakses hal-hal yang berkaitan dengan pornografi. Sehingga memberi kesempatan, suasana, sarana dan prasarana yang sangat mendukung bagi para remaja untuk melakukan hubungan seksual dengan teman atau pacar,” jelas Harso.
Selain itu tersedianya mall, tempat hiburan, cafe, hotel, penginapan yang menjamur dengan fasilitas yang sangat mendukung, mempermudah para remaja untuk melakukan yang belum seharusnya mereka lakukan. Kondisi ini perlu segera mendapat perhatian semua pihak.
21 tanggapan so far ↓
koben // Maret 17, 2009 pada 6:14 pm
LAGI2 PARAHHHHHHHHHHH
gruunliebe // Maret 17, 2009 pada 7:24 pm
serem yah??
adalah bijak kalo perubahan dimulai dari diri kita sendiri…
lets change our selves
daishz // Maret 17, 2009 pada 7:58 pm
Memang mengkhawatirkan, tapi begitulah nyatanya.
http://want2knows.blogspot.com
omiyan // Maret 18, 2009 pada 12:06 am
semuanya akibat gaya hidup yang semakin mengarah kepada prilaku seks bebas karena ada anggapan bahwa gaya hidup itu adalah bukti kemajuan jaman
terbukti dan terlihat para pengikut kehidupan bebas adalah secara nyata para pendukung akan penolakan terhadap UU Pornografi dan Pornoaksi
Robert Manurung // Maret 18, 2009 pada 9:37 am
buset !
http://tobadreams.wordpress.com/2009/03/08/menjual-keperawanan/
Harnovi // Maret 18, 2009 pada 10:12 am
Waw..waw,. Gilo mak.
Kayaknya cari istri jangan orang kota dan harus bisa milih2 ni, obral2..
mesin kasir // Maret 18, 2009 pada 3:57 pm
surveynya valid ya bang? apa sudah separah itu sih? enak juga ya jadi surveyornya, tilikin satu satu
darsam07 // Maret 18, 2009 pada 6:16 pm
naudzubillah…..tsumma naudzubillah
rodrymikhael // Maret 18, 2009 pada 6:21 pm
Benarkah? Bisa dicantumin sumber datanya (linknya) darimana?
pengelolaan keuangan // Maret 18, 2009 pada 6:35 pm
Para orang tua dan masyarakat harus lebih mawas diri
mamas86 // Maret 18, 2009 pada 6:52 pm
Tambah parah aja moral remaja Indonesia sekarang ini… Mungkinkah ini suatu pertanda,…?
germant // Maret 18, 2009 pada 7:09 pm
wah, kok sistem pendidikan sekarang malah mentingin material y?
mana kdisplinan antar siswa nya?uhhh
germant // Maret 18, 2009 pada 7:10 pm
semoga masyarakat kita kedepannya sadar akan penyakit HIV/AIDS
Admin // Maret 18, 2009 pada 7:57 pm
itulah wajah negeri kita…
salam,
http://bursasepatu.wordpress.com
http://planetshoes.wordpress.com
engeldvh // Maret 18, 2009 pada 9:04 pm
Hahaaha….
Manteb, ga pelu dikembangkan tuh….
http://engeldvh.wordpress.com
roberthendrik // Maret 18, 2009 pada 10:41 pm
padahal SUMUT daerahnya cukup religius ya.. ternyata gak menjamin..
Billy Koesoemadinata // Maret 19, 2009 pada 12:09 am
ck..ck..ck..
Nainggolan // Maret 19, 2009 pada 12:25 am
Penelitian ttg keperawanan sudah beberapa kali dilaksanakan. Tapi kok saya belum pernah dengar penelitian ttg keperjakaan yah??
Salam kenal lae, saya dari Balige juga sekarang di Pontianak Kalbar
germant // Juni 2, 2009 pada 7:50 pm
ADA SEBAB DAN AKIBAT
SIMAK BLOG SAYA AJA DIJAMIN PUAS
germant // Juni 2, 2009 pada 7:51 pm
https://lekonk.wordpress.com/
timbul wardoyo // Juni 8, 2009 pada 4:36 am
Salam, sukses selalu, dari lexington Kentucky, USA untuk Mas Harso Kardhinata Dekan F biologi UMA…